Wednesday, April 16, 2008

Ketika Derita Mengabadikan Cinta

Ketika Derita Mengabadikan Cinta

Dipetik dari buku Di Atas Sajadah Cinta karya Habiburrahman El Shirazy

"Kini tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk kedua mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh Hasan Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan Dikrektur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar syaraf terkemuka di Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua mempelai. Kepada Professor dipersilahkan..."

Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan resepsi pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di tepi sungai Nil, Kairo.

Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan disampaikan pakar syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti- nanti mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering nongol di televisi itu.

Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih melangkah menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya memancarkan wibawa. Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia memang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat, mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium, kamera video dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara, seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu...

Bismillah, alhamdulillah, washalatu was salamu'ala Rasulillah, amma ba'du. Sebelumnya saya mohon ma'af , saya tidak bisa memberi nasihat lazimnya para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita...

Cerita yang hendak saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan bukan cerita biasa. Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai harganya, yang telah saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. harapan saya, mempelai berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisa mengambil hikmah dan pelajaran yang dikandungnya. Ambilah mutiaranya dan buanglah lumpurnya.

Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras, melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya.

Tiga puluh tahun yang lalu ...

Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan menengah ke atas. Ayah saya seorang perwira tinggi, keturunan "Pasha" yang terhormat di negeri ini. Ibu saya tak kalah terhormatnya, seorang lady dari keluarga aristokrat terkemuka di Ma'adi, ia berpendidikan tinggi, ekonom jebolan Sorbonne yang memegang jabatan penting dan sangat dihormati kalangan elit politik di negeri ini.

Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup dalam suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan hidup sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat. Keluarga besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan aristokrat atau kalangan high class yang sepadan!

Entah kenapa saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini. Saya merasa terkukung dan terbelenggu dengan strata sosial yang didewa-dewakan keluarga. Saya tidak merasakan benar hidup yang saya cari. Saya lebih merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman dari kalangan bawah yang menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan perjuangan. Hal ini ternyata membuat gusar keluarga saya, mereka menganggap saya ceroboh dan tidak bisa menjaga status sosial keluarga. Pergaulan saya dengan orang yang selalu basah keringat dalam mencari pengganjal perut dianggap memalukan keluarga. Namun saya tidak peduli.

Karena ayah memperoleh warisan yan sangat besar dari kakek, dan ibu mampu mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka kami hidup mewah dengan selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke luar negri, ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia lainnya. Jika berlibur di dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan keluarga kami adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza yang berdekatan dengan istana Raja Faruq.

Begitu masuk fakultas kedokteran, saya dibelikan mobil mewah. Berkali-kali saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil biasa saja, agar lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para dosen. Tetapi beliau menolak mentah-mentah.

"Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja" tegas ayah.

Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di hati, saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah.

Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang penuh pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya menangkap dalam relung hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan dan kecerdasannya sangat menajubkan. Ia gadis yang beradab dan berprestasi, sama seperti saya.

Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk menempatkan cinta ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu ikatan pernikahan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di fakultas. Maka datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang lurus.

Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian serta tutur bahasanya yang halus.

Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan membanting gelas yang ada di dekatnya. Bahkan beliau mengultimatum: Pernikahan ini tidak boleh terjadi selamanya!

Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin yang tak terkira.

Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku sedemikian sadis? Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang cukur.... tukang cukur, ya... sekali lagi tukang cukur! Saya katakan dengan bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki sejati. Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak banyak dilakukan para bangsawan "Pasha". Lewat tangannya ia lahirkan tiga dokter, seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun dia sama sekali tidak mengecap bangku pendidikan.

Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri sendiri, tidak ada yang membela. Pada saat yang sama adik saya membawa pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah ibu langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya sebesar 500 ribu ponds. Saya protes kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak adil seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di jalan yang lurus tidak direstui, sedangkan adik saya yang jelas- jelas telah berzina, bergonta-ganti pacar dan akhirnya menghamili pacarnya yang entah yang ke berapa di luar akad nikah malah direstui dan diberi fasilitas maha besar? Dengan enteng ayah menjawab. "Karena kamu memilih pasangan hidup dari strata yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan pacar adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan martabat keluarga besar Al Ganzouri."

Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya. Kalau dia bukan ayah saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda kiamat sudah dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah dihalangi, namun yang jelas berzina justru difasilitasi.

Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan hidup saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan pasangan bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa- apa selain menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya yakini kebenarannya. Itu saja.

Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya. Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la haula wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau setelah mengetahui penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak mentah- mentah untuk mengawinkan putrinya dengan saya. Ternyata beliau menjawabnya dengan reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya sebagai anak jika tetap nekad menikah dengan saya.

Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak pernikahan ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan keluarga dia menolak karena alasan membela kehormatan.

Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan bertanya kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta?

Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke kantor ma'dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang sahabat karibku. Kami berikan identitas kami dan kami minta ma'dzun untuk melaksanakan akad nikah kami secara syari'ah mengikuti mahzab imam Hanafi.

Ketika Ma'dzun menuntun saya, "Mamduh, ucapkanlah kalimat ini: Saya terima nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam Abu Hanifah."

Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata 3 sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah itu. Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah di mata Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar menyiapkan kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir.

Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah kami membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata. Begitu mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari rumah. Mobil dan segala fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa potong pakaian dan uang sebanyak 4 pound saja! Itulah sisa uang yang saya miliki sehabis membayar ongkos akad nikah di kantor ma'dzun.

Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih tragis lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang sebanyak 2 pound, tak lebih! Total kami hanya pegang uang 6 pound atau 2 dolar!!!

Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua bertemu di jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat pada puncak musim dingin. Kami menggigil, rasa cemas, takut, sedih dan sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan kasih sayang , rasa berdaya dan hidup menjalari sukma kami.

"Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti ini. Maafkan Kanda!"

"Tidak... Kanda tidak salah, langkah yang kanda tempuh benar. Kita telah berpikir benar dan bercinta dengan benar. Merekalah yang tidak bisa menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti cara berpikir anak kecil. Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita benar dan tindakan mereka salah. Saya tidak menyesal dengan langkah yang kita tempuh ini.

Percayalah, insya Allah, saya akan setia mendampingi kanda, selama kanda tetap setia membawa dinda ke jalan yang lurus. Kita akan buktikan kepada mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya dengan keyakinan cinta kita. Suatu ketika saat kita gapai kejayaan itu kita ulurkan tangan kita dan kita berikan senyum kita pada mereka dan mereka akan menangis haru.

Air mata mereka akan mengalir deras seperti derasnya air mata derita kita saat ini," jawab isteri saya dengan terisak dalam pelukan.

Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah rasa optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika. Apalagi teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi dokter. Dan sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan menerima penghargaan dan uang sebanyak 40 pound.

Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa. Dalam kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang juga. Dengan sisa uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah toko selama 24 jam.

Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman sebanyak 50 pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala kadarnya yang murah.

Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan kembali bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih sayang dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT.

Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami berhasil menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah. Bagi kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan rumah binatang kesayangan mereka mungkin lebih bagus dari rumah kontrakan kami.

Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu, jika seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia bagai mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang jaminan dan uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari 25 pound saja untuk 3 bulan.

Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana. Lalu kami pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari sebuah kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua kursi dan satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua cangkir dari tanah, itu saja... tak lebih.

Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa tetap bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini kebahagiaan melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup bahagia adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang- orang di dunia merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah menjanjikan cinta.

Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah untuk memberikan gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah di surga. Jika percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh lebih nikmat dari semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa dibayangkan. Yang paling nikmat adalah cinta yang diberikan oleh Allah kepada penghuni surga , saat Allah memperlihatkan wajah-Nya. Dan tidak semua penghuni surga berhak menikmati indahnya wajah Allah SWT.

Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang berhak memperoleh segala cinta di surga.

Melalui penghayatan cinta ini, kami menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan diri kepada-Nya.

Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur'an, lalu memakai jilbab, dan tiada putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi'ah Adawiyah yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang ia adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia memang wanita yang berkarakter dan berkepribadian kuat, ia bertekad untuk hidup berdua tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia juga seorang wanita yang pandai mengatur keuangan. Uang sewa sebanyak 25 poud yang tersisa setelah membayar sewa rumah cukup untuk makan dan transportasi selama sebulan.

Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan kamipun mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan derita hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai- sampai ada yang bilang tanpa disengaja,"Ah, kami kira para dokter itu pasti kaya semua, ternyata ada juga yang melarat sengsara seperti Mamduh dan isterinya."

Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak mengurangi nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan bantuan-bantuan kecil layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan kepada isteri agar menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka karena kami memang dokter yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan dokter. Ada yang membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan dengan pertolongan-pertolongan mereka.

Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan yang kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami. Yang lebih menyakitkan mereka tidak membiarkan kami hidup tenang.

Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami digedor dan didobrak oleh 4 ..:: makhluk yang lucu::.. kiriman ayah saya. Mereka merusak segala perkakas yang ada. Meja kayu satu- satunya, mereka patah-patahkan, begitu juga dengan kursi. Kasur tempat kami tidur satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam dan memaki kami dengan kata-kata kasar. Lalu mereka keluar dengan ancaman, "Kalian tak akan hidup tenang, karena berani menentang Tuan Pasha."

Yang mereka maksudkan dengan Tuan "Pasha" adalah ayah saya yang kala itu pangkatnya naik menjadi jendral. Ke-empat ..:: makhluk yang lucu::.. itu pergi. Kami berdua berpelukan, menangis bareng berbagi nestapa dan membangun kekuatan. Lalu kami tata kembali rumah yang hancur. Kami kumpulkan lagi kapas-kapas yang berserakan, kami masukan lagi ke dalam kasur dan kami jahit kasur yang sobek-sobek tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku yang berantakan. Meja dan kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki. Lalu kami tertidur kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah eratnya genggaman inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang meringankan intimidasi hidup ini.

Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah merancang skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan tuduhan wanita tuna susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen militer di negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang berada di telapak kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah total kepada Allah mendengar hal itu.

Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak mengurungkan niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman karibku berhasil memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil membujuk saya agar menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak menjalankan skenario itu , sebab kalau itu terjadi pasti pemberontakan saya akan menjadi lebih keras dan bisa berbuat lebih nekad.

Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil meminta beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai isteriku. Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu, sampai ayah turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya bisa mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.

Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu tahun penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya takutkan, tidak ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6 pound setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang sangat saya cintai. Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur karena memikirkan keselamatan isteri tercinta.

Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan hamba-hamba-Nya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia mendapatkan kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah kami. Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat Allah SWT.

Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu kepada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya teringat puisi seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan pendamping setia & lepas dari belenggu derita:

Sambil menatap kaki langit

Kukatakan kepadanya

Di sana... di atas lautan pasir kita akan berbaring

Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba

Bukan karna ketiadaan kata-kata

Tapi karena kupu-kupu kelelahan

Akan tidur di atas bibir kita

Besok, oh cintaku... besok

Kita akan bangun pagi sekali

Dengan para pelaut dan perahu layar mereka

Dan akan terbang bersama angin

Seperti burung-burung

Yah... saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta. Namun dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras untuk masuk program Magister bersama!

"Gila... ide gila!!!" pikirku saat itu.

Bagaimana tidak... ini adalah saat paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan sebagai dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang tidak berperasaan. Tetapi istri saya tetap bersikukuh untuk meraih gelar Magister dan menjawab logika yang saya tolak:

"Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat tawaran dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya, kita harus sabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian kita rengguk sum-sum penderitaan ini. Kita sempurnakan prestasi akademis kita, dan kita wujudkan mimpi indah kita."

Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku pun luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan kekuatan jiwanya.

Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan mulailah kami memasuki hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan, sementara kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku, dll. Nyaris kami hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan roti dan air. Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan kami. Malam hari kami lalui bersama dengan perut kosong, teman setia kami adalah air keran.

Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama dalam suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, kami obati dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa uang untuk beli buku kami ambil untuk pengganjal perut.

Siang hari, jangan tanya... kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu, terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan.

Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah menyesal atau mengeluh sedikitpun. Tidak pernah saya melihat istri saya mengeluh, menagis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab. Kalaupun dia menangis, itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi dia malah lebih kasihan kepada saya. Dia kasihan melihat keadaan saya yang asalnya terbiasa hidup mewah, tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya gelandangan.

Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang asalnya hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di rumah kontrakan yang kumuh dan makan ala kadarnya.

Timbal balik perasaan ini ternya menciptakan suasana mawaddah yang luar biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya.

Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya adalah wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan, dia akan mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh cinta dengan senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan terlupakan semua. Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini.

"Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang..." bisiknya mesra sambil tersenyum.

Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara.

Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih gelar Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja! Namun, kami belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun kami masih hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada istilah makan enak dalam hidup kami.

Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan untuk pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka, kami mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah, merasakan kembali tidur di kasur empuk dan kembali mengenal masakan lezat.

Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir setelah memiliki rumah yang layak. Tetapi istriku memang 'edan'. Ia kembali mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program Doktor Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak:

"Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui, dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar Doktor di London. Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak ada salahnya kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil merasakan hidup di negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyediakan dana tambahan."

Kucium kening istriku, dan bismillah... kami berangkat ke London. Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol gelar Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya spesialis jantung.

Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak kerja baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya diangkat sebagai direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai wakilnya! Kami juga mengajar di Universitas.

Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai dia dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam suka dan duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan.

Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah sebelumnya menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali laksana raja dan permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami hidup bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih dari 9 tahun hidup menderita, melarat dan sengsara.

Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah swt dan bertambahlan rasa cinta kami.

Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika hadirin sekalian ingin tahu istri saleha yang saya cintai dan mencurahkan cintanya dengan tulus, tanpa pernah surut sejak pertemuan pertama sampai saat ini, di kala suka dan duka, maka lihatlah wanita berjilbab biru yang menunduk di barisan depan kaum ibu, tepat di sebelah kiri artis berjilbab Huda Sulthan. Dialah istri saya tercinta yang mengajarkan bahwa penderitaan bisa mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz..."

Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru. Perempuan itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga merekam mata Huda Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai, dan segenap hadirin yang menghayati cerita ini dengan seksama.

Di Atas Sejadah Cinta

Diatas Sejadah Cinta

Dipetik dari buku Di Atas Sajadah Cinta karya Habiburrahman El Shirazy

Kota kufah terang oleh sinar purnama . Semilir angin yang bertiup dari utara membawa hawa sejuk. Sebahagian rumah telah menutup pintu dan jendelanya . Namun geliat hidup kota Kufah masih terasa .

Di serambi masjid Kufah , seorang pemuda berdiri tegap menghada kiblat . Kedua matanya memandang teduh ke tempat sujud . Bibirnya bergetar melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran . Hati dan seluruh gelegak jiwanya menyatu dengan tuhan , Pencipta alam semesta.

Orang-orang memanggilnya ' zahid ' atau ' si ahli zuhud ' , karena kezuhudannya meskipun ia masih muda. Dia dikenal masyarakat sebagai pemuda yang paling tampan dan paling mencintai masjid di Kota Kufah pada masanya . Sebahagian besar waktunya ia habiskan di dalam masid., untuk ibadah dan menuntut ilmu pada ulama terkemuka Kota Kufah . Saat itu masjid adalah pusat peradaban , pusat pendidikan , pusat informasi dan pusat perhatian .

Pemuda itu terus larut dalam samudera ayat Ilahi. Tiap kali sampai pada ayat azab, tubuh pemuda itu bergetar hebat . Air matanya mengalir deras . Neraka bagaikan menyala - nyala di hadapannya . Namun, jika ia sampai pada ayat-ayat ni'mat dan syurga , embun sejuk dari langit terasa bagai mengguyur sekujur tubuhnya . Ia merasakan kesejukan dan kebahagiaan . Ia bagai mencium aroma wangi para bidadari yang suci .

Tatkala sampai pada surah Asy-Syams , ia menangis ,

" fa alhamaha fujuuraha waa taqwaaha , qad aflaha man zakkaaha wa qad khaaba man dassaha "

( maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaan , Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya )

Hatinya tertanya - tanya, Apakah dia termasuk golongan yang mensucikan jiwanya ?

Ataukah golongan yang mengotori jiwanya ? Dia termasuk golongan yang beruntung atau yang merugi ?

Ayat itu ia ulang berkali-kali . Hatinya bergetar hebat . Tubuhnya berguncang. Akhirnya ia pengsan .

Sementara itu , di pinggir kota tampak sebuah rumah mewah bagai istana . Lampu - lampu yang menyala dari kejauhan tampak berkerlap - kerlip bagai bintang gemintang . Rumah itu milik seorang saudagar kaya yang memiliki kebun korma yang luas dan hewan ternak yang tak terhitung jumlahnya .

Dalam salah satu kamarnya , tampak seorang gadis jelita sedang menari- menari riang gembira . Wajahnya yang putih susu tampak kemerahan terkena sinar yang terpancar bagai tiga lentera yang menerangi ruangan itu . Kecantikannya sungguh mempesona. Gadis itu terus menari sambil mendendangkan syair - syair cinta ,

" in kuntu 'asyiqatullail fa ka'si musyriqun bi dhau' wal hubb al wariq "

( jika aku pencinta malam maka gelasku memancarkan cahaya dan cinta yang mekar..)

Gadis itu terus menari -nari dengan riangnya . Hasilnya berbunga - bunga . Di ruangan tengah , kedua orang tuanya menyungging senyum mendengar syair yang di dendangkan putrinya .

Sang ibu berkata , " Abu Afirah , putri kita sudah menginjak dewasa . Kau dengarkanlah baik-baik syair-syair yang ia dendangkan ."

" Ya itu syair-syair cinta , memang sudah saatnya ia menikah . Kebetulan tadi siang di pasar aku berjumpa dengan Abu Yasir . Dia melamar Afirah untuk putranya , Yasir "

" Bagaimana? Kau terima atau ........?"

" Ya jelas langsung aku terima . Dia kan masih kerabat sendiri dan kita banyak berhutang budi padanya . Disamping itu Yasir itu gagah dan tampan ."

" tapi bukankah lebih baik kalau minta pendapat Afirah dulu?"

" Tak perlu! Kita tidak ada pilihan kecuali menerima pinangan ayah Yasir. Pemuda yang paling cocok adalah Yasir "

" Ah , itu gampang . Nanti jika sudah beristeri Afirah, dia pasti juga akan tobat ! Yang penting dia kaya raya "

Pada saat yang sama , di sebuah tenda mewah , tak jauh dari Kota Kufah . Seorang pemuda tampan dikelilingi oleh teman - temannya . Tak jauh darinya seorang penari melenggok - lenggokkan tubuhnya diiringi suara gendang dan seruling .

" Ayo bangun , Yasir . Penari itu mengerlingkan matanya padamu !" Bisik temannya

" Be... Benarkah ?"

" Benar. Ayo cepatlah . Dia penari tercantik kota ini . Jangan kau sia - siakan kesempatan ini Yasir !"

"Baiklah . Bersenang - senang dengannya memang impianku ."

Yasir lalu bangkit dari duduknya dan beranjak menghampiri sang penari .Sang penari menghulurkan tangannya dan Yasir menyambutnya . Keduanya lalu menari nari diiringi irama seruling dan gendang . Keduanya benar- benar hanyut dalam kelenaan . Dengan gerakan mesra penari itu membisikkan sesuatu ke telinga Yasir ,

" Apakah anda punya waktu malam ini bersamaku?"

Yasir tersenyum dan menganggukkan kepalanya . Keduanya terus menari dan menari . Suara gendang memecah hati . Irama seruling melengking lengking . Aroma arak menyengat Nurani . Hati dan pikiran jadi mati .

Keesokan harinya .

Usai shalat dhuha , zahid meninggalkan masjid menuju ke pinggir kota . Ia hendak menjenguk saudaranya yang sakit . Ia berjalan dengan hati terus berdzikir membaca ayat - ayat suci al - Quran . Ia sempatkan ke pasar sebentar untuk membeli anggur dan apel buat saudaranya yang sakit .

Zahid berjalan melewati kebun Korma yang luas . Saudaranya pernah bercerita bahawa kebun itu milik saudagar kaya , Abu Afirah . Ia terus melangkah menapaki jalan yang membelah kebun korma itu . Tiba - tiba dari kejauhan ia melihat titik hitam . Ia terus berjalan dan ttik hitam itu semakin mendekat . Matanya lalu menangkap di kejauhan sana perlahan bayangan itu menjadi seorang sedang menunggang kuda , lalu sayup-sayup telinganya menangkap suara ,

" tolooong!! toloong !! "

Suara itu datang dari arah penunggang kuda yang ada jauh di depannya . Ia menghentikan langkahnya . Penunggang kuda itu semakin jelas .

" toloong !! tolong!! "

Suara itu semakin jelas terdengar . Suara seorang perempuan . Dan matanya dengan jelas bisa menangkap penunggang kuda itu adalah seorang perempuan . Kuda itu berlari kencang .

" Toloong !! toloong hentikan kudaku ini ! Ia tidak bisa dikendalikan !"

Mendengar itu Zahid tegang . Apa yang harus ia perbuat . Sementara kuda itu semakin dekat dan tinggal beberapa belas meter di depannya . Cepat-cepat is menenangkan diri dan membaca shalawat . Ia berdiri tegap di tengah jalan . Tatkala kuda itu sudah sangat dekat ia mengangkat tangan kanannya dan berkata keras ,

" Hai kuda makhluk Allah , berhentikanlah dengan izin Allah !"

Bagai pasukan mendengar perintah panglimanya , kuda itu meringkik dan berhenti seketika .Perempuan yang ada di punggungnya terpelanting jatuh . Perempuan itu mengaduh . Zahid mendekati perempuan itu dan menyapanya .

" Assalamu'alaiki , kau tidak apa - apa ?"

Perempuan itu mengaduh . Mukanya tertutup cadar hitam . Dua matanya yang bening menatap Zahid . Dengan sedikit merintih ia menjawab pelan,

" Alhamdulillah tidak apa - apa ,hanya saja tangan kananku sakit sekali . Mungkin terkilir saat jatuh "

" Syukurlah kalau begitu "

Dua amata bening di balik cadar itu terus memandang wajah tampan Zahid . Menyadari hal itu , Zahid menundukkan pandangannya ke tanah . Perempuan itu perlahan bangkit. Tanpa sepengetahuan Zahid , ia membuka cadarnya . Dan tampaklah eajh cantik nan mempesona..

" Tuan , saya ucapkan terima kasih . Kalau boleh tahu siapa nama Tuan , dari mana dan mau ke mana Tuan ?"

Zahid mengangkat mukanya . Tak ayal matanya menatap wajah putih bersih mempesona . Hanya bergetar hebat . Saraf dan ototnya terasa dingin semua. Inilah untuk pertama kalinya ia menatap wajah gadis jelita dari jarak yang sangat dekat .

Sesaat lamanya keduanya beradu pandang. Sang gadis terpesona dengan ketampanan Zahid , sementara gemuruh hati zahid tak kalah hebatnya . Gadis itu tersenyum dengan pipi merah merona . Zahid tersadar , ia cepat- cepat menundukkan kepalanya . " Innalillah ""Astaghfirullah ", gemuruh hatinya .

"Namaku Zahid , aku dari masjid mau mengunjungi saudaraku yang sakit"

"Jadi kaukah zahid yang dibicarakan orang itu? yang hidupnya cuma di dalam masjid ?"

" Tak taulah, itu mungkin zahid yang lain " kata Zahid sambil membalikkan badan . Ia lalu melangkah .

" Tunggu dulu Tuan Zahid ! Kenapa tergesa- gesa ? Kau mau kemana ? Perbincangan kita belum selesai !"

" Aku mau melanjutkan perjalananku !"

Tiba - tiba gadis itu berlari dan berdiri di hadapan Zahid . Terang saja Zahid gelagapan . Hatinya bergetar hebat menatap aura kecantikan gadis yang ada di depannya . Seumur hidup ia belum pernah menghadapi situasi seperti ini .

" Tuan , aku hanya mau bilang , namaku Afirah . Kebun ini milik ayahku . Dan rumahku ada di sebelah selatan kebun ini . Jika kau mau silakan datang ke rumahku . Ayah pasti akan senang dengan kehadiranmu . Dan sebgai ucapan terima kasih aku mau menghadiahkan ini ."

Gadis itu lalu mengulurkan tangannya memberi sapu tangan hijau muda .

" tidak usah "

"terimalah , tidak apa -apa , ! Kalau tidak tuan terima , aku tidak akan memberi jalan !"

Terpaksa zahid menerima saputangan itu . Gadis itu lalu minggir sambil menutup kembali mukanya dengan cadar . Zahid melangkahkan kedua kakinya melanjutkan perjalanan.....

Saat malam datang membentangkan jubah hitamnya , Kota Kufah kembali diterangi sinar rembulan. Angin sejuk dari utara semilir mengalir .

Afirah terpekur di kamarnya . Matanya berkaca - kaca . Hatinya basah. Pikirannya bingung. Apa yang menimpa dirinya. Sejak kejadian dirinya tadi pagi di kebun korma hatinya terasa gundah . Wajah bersih zahid bagai tak hilang dari pelupuk matanya . Pandangan matanya yang teduh menunduk membuat hatinya sedemikian terpikat .

Pembicaraan orang - orang tentang kesalehan seorang pemuda di tengah kota bernama zahid semakin membuat hatinya tertawan . Tadi pagi ia menatap wajahnya dan mendengarkan tutur suaranya. Ia juga menyaksikan wibawanya . Tiba- tiba air matanya mengalir deras. Hatinya merasakan aliran kesejukan dan kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dalam hati ia berkata ,

" Inikah cinta ? beginikah rasanya ? terasa hangat mengaliri syaraf . Juga terasa sejuk di dalam hati. Ya rabbi! tidak aku mungkiri , aku jatuh hati pada hambamu yang bernama zahid . Dan inilah untuk pertama kalinya aku terpesona pada seorang pemuda .Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta . Ya Rabbi, izinkanlah aku mencintainya "

Air matanya terus mengalir membasahi pipinya . Ia teringat sapu tangan yang ia berikan pada zahid . Tiba - tiba ia tersenyum ,

" Ah , sapu tanganku ada padanya . Ia pasti juga mencintaiku . Suatu hari ia akan datang kemari ."

Hatinya berbunga - bunga . Wajah yang tampan bercahaya dan bermata teduh itu hadir di pelupuk matanya .

Sementara itu , di dalam masjid Kufah tampak zahid yang sedang menangis di sebelah kanan mimbar . Ia menangisis hilangnya kekhusyukan hatinya dalam shalat. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Sejak ia bertemu dengan Afirahdi kebun korma tadi pagi ia tidak bisa mengendalikan gelora hatinya .

Aura kecantikan Afirah bercokol dan mengakar sedemikian kuat dalam relung- relung hatinya . Aura itu selalu melintas dalam solat , baca Al-Quran dan dalam apa saja yang ia lakukan .Ia telah berulang kali cuba menepis jauh - jauh aura pesona Afirah dengan melakukan shalat sekhusyuk khusyuknya namun usaha itu sia - sia .

" Ilahi, kasihanilah hambamu yang lemah ini. Engkau mahatahu atas apa yang menimpa diriku. Aku tak ingin kehilangan cinta mu . Namun engkau juga tahu, hatiku ini tak mampu mengusir pesona kecantikan seorang makhluk yang engkau ciptakan. Saat ini hamba sangat lemah berhadapan dengan daya tarik wajah dan suaranya ilahi , berilah padaku cawan kesejukan untuk meletakkan embun-embun cinta yang menetes-menetes dalam dinding hatiku ini. Ilahi, tuntunlah langkahku pada aris takdir yang paling engkau ridhai .Aku serahkan hidup matiku untuk Mu " Isak zahid mengharu biru pada Tuhan Sang Pencipta hati, cinta , dan segala keindahan semesta .

Zahid terus meratap dan mengiba . Hatinya yang dipenuhi gelora cinta terus ia paksa untuk menepis noda-noda nafsu. Anehnya , semakin ia meratap embun-embun cinta itu semakin deras mengalir. Rasa cintanya pada tuhan . Rasa takut akan azabnya. Rasa cinta dan rindunya pada Afirah . Dan rasa tidak ingin kehilangannya . Semua bercampur dan mengalir sedemikian hebat dalam relung hatinya . Dalam puncak munajatnya , ia pingsan .

Menjelang subuh , ia terbangun. Ia tersentak kaget . Ia belum shalat tahajjud . Beberapa orang tampak sedang asyik beribadah bercengkerama dengan tuhannya. ia menangis , ia menyesal . Biasanya ia sudah membaca dua juz dalam shalatnya.

" Ilahi , jangan kau gantikan bidadariku di syurga dengan bidadari dunia . Ilahi , hamba lemah maka berilah kekuatan !"

Ia lalu bangkit , wudhu dan shalat tahajjud . Di dalam sujudnya ia berdoa ,

" Ilahi hamba mohon ridhamu dan syurga . Amin . Ilahi lindungi hambamu dari murkamu dan neraka . Amin. Ilahi, jika boleh hamba titipkan rasa cinta hamba pada Afirah padamu , hamba terlau lemah untuk menanggungnya . Amin. Ilahi , hamba mohon ampunan mu, rahmatmu , cintamu , dan ridhamu . Amin. "

Pagi hari itu , usai shalat dhuha Zahid berjalan ke arah pinggir kota . Tujuannya jelas iaitu rumah Afirah . Hatinya mantap untuk melamarnya . Di sana ia disambut baik oleh kedua orangtua Afirah . mereka sangat senang dengan kunjungan Zahid yang sudah terkenal ketakwaannya di seantero penjuru kota .

Afirah keluar sekejap untuk membawa minuman lalu kembali ke dalam. Dari balik tirai ia mendengarkan dengan seksama pembicaraan Zahid dengan ayahnya . Zahid mengutarakan maksud kedatangannya , yaitu melamar Afirah .

Sang ayah diam sesaat. Ia mengambil nafas panjang . Sementara Afirah menanti dengan seksama jawaban ayahnya . Keheningan mencengkam sesaat lamanya . Zahid menundukkan kepala ia pasrah dengan jawaban yang akan diterimanya . Lalu terdengarlah jawapan ayah Afirah

" Anakku Zahid , kau datang terlambat . Maafkan aku , Afirah sudah dilamar oleh Abu Yasir untuk putranya Yasir beberapa hari yang lalu , dan aku telah menerimanya "

Zahid hanya mampu menganggukkan kepala . Ia sudah mengerti dengan baik apa yang didengarnya . Ia tidak bisa menyembunyikan irisan kepedihan hatinya . Ia mohon diri dengan mata berkaca-kaca . Sementara Afirah , lebih tragis keadaannya . Jantungnya nyaris pecah mendengarnya . Kedua kakinya seperti lumpuh seketika. Ia pun pingsan saat itu juga .

Zahid kembali ke masjid dengan kesedihan tak terkira . Keimanan dan ketakwaan Zahid ternyata tidak mampu mengusir rasa cintanya pada Afirah . Apa yang ia dengar dari ayah Afirah membuat nestapa jiwanya . Ia pun jatuh sakit . Suhu badannya sangat panas . Berkali - kali ia pingsan. Berkali - kali ia pingsan . Ketika keadaannya kritis seorang jamaah membawa dan merawatnya di rumahnya . Ia sering mengigau . Dari bibirnya terucap kalimat tasbih , tahlil , istighfar dan ...... Afirah .

Kabar tentang derita yang dialami Zahid ini tersebar ke seantero kota Kufah . Angin pun meniupkan kabar ini ke telinga Afirah . Rasa cinta Afirah yang tak kalah besarnya membuatnya menulis sebuah surat pendek , " Kepada Zahid ,

Assalamu'alaikum

Aku telah mendengar betapa dalam rasa cintamu padaku . Rasa cinta itulah yang membuatmu sakit dan menderita saat ini . Aku tahu kau selalu menyebut diriku dalam mimpi dan sadarmu . Tak bisa kuingkari , aku pun mengalami hal yang sama . Kaulah cintaku yang pertama . Dan kuingin kaulah pendamping hidupku selama - lamanya .

Zahid ,

Kalau kau mau . Aku tawarkan dua hal padamu untuk mengobati rasa haus kita berdua . Pertama , aku akan datang ke tempatmu dan kita bisa memadu cinta . Atau , kau datanglah ke kamarku , akan aku tunjukkan jalan dan waktunya .

Wassalam

Afirah

Surat itu ia titipkan pada seorang pembantu setianya yang bisa dipercaya . Ia berpesan agar surat itu langsung sampai ke tangan Zahid . Tidak boleh ada orang ketiga yang membacanya . Dan meminta jawaban Zahid saat itu juga .

Hari itu juga surat Afirah sampai tangan Zahid . Dengan hati berbunga- bunga Zahid menerima surat itu dan membacanya . Setelah tahu isinya seluruh tubuhnya bergetar hebat . Ia menarik nafas panjang dan beristighfar sebanyak - banyaknya . Dengan berlinang air mata ia menulis balasan untuk Afirah : cinta yang menyeret kepada kenistaan dosa dan murka-Nya.

" Kepada Afirah

Salamullahi'alaik

Benar aku sangat mencintaimu . Namun sakit dan deritaku ini tidaklah semata- semata karena rasa cintaku padamu. Sakitku ini kerana aku menginginkan sebuah cinta suci yang mendatangkan pahala dan diridhai Allah 'Aza wajalla. Inilah yang ku damba . Dan aku ingin mendamba yang sama . Bukan sebuah cinta yang menyeret kepada kenistaan dosa dan murka-Nya.

Afirah,

Kedua tawaranmu itu tidak ada yang aku terima. Aku ingin mengobati kehausan jiwa ini dengan secangkir air cinta dari syurga . Bukan air timah dari neraka . Afirah , " inni akhaafu in 'ashaitu Rabbi adzaaba yaumin adzim "

Afirah ,

Jika kita terus bertakwa , Allah akan memberikan jalan keluar . Tak ada yang bisa aku lakukan saat ini kecuali menangis padanya . Tidak mudah meraih cinta berubah pahala . Namun aku sangat yakin dengan firmannya " Wanita - wanita yan tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik , dan laki - laki yang tidak baik adalah untuk wanita-wanita yang tidak baik ( pula ), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik , dan laki - laki yang baik adalah untuk wanita - wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh itu) bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka. Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia
(yaitu surga). Karena aku ingin mendapatkan seorang bidadari yang suci dan baik . Maka aku akan berusaha kesucian dan kebaikan . Selanjutnya Allah yang menentukan .

Afirah,

Bersama surat ini aku sertakan serbanku , semoga bisajadi penglipur lara dan rindumu. Hanya kepada Alllah kita serahkan hidup dan mati kita.

Wassalam

Zahid "

Begitu membaca jawapan Zahid itu Afirah menangis . Ia menangis bukan kerana kecewa, tapi menangis kerana menemukan sesuatu yang sangat berharga ,yaitu hidayah . Pertemuan dan percintaannya dengan seorang pemuda Soleh bernama Zahid itu telah mengubah jalan hidupnya .

Semenjak itu ia meninggalkan semua jalan kehidupannya yang glamor. Ia berpaling dari dunia dan menghadapkan wajahnya sepenuhnya untuk akhirat . Serban putih pemberian Zahid itu ia jadikan sejadah , tempat di mana ia sujud dan menangis di tengah malam memohon ampunan dan rahmat Allah s. w. t .Siang ia puasa dan malam ia menghabiskan masa bermunajat kepada tuhannya . Di atas sejadah putih itu ia menemukan cinta yang lebih agung dan lebih indah , yaitu cinta kepada Allah s. w. t . Hal yang sama juga dilakukan Zahid di masjid Kufah . Keduanya benar-benar larut dalam samudera cinta kepada Allah s. w. t.

Allah Maha Rahman dan Rahim. Beberapa bulan kemudian Zahid menerima sepucuk surat dari Afirah ,

" Kepada Zahid ,

Assalamu'alaikum ,

Segala puji bagi Allah , Dialah Tuhan yang memberi jalan keluar hambanya yang bertakwa . Hari ini ayahku memutuskan tali pertunanganku dengan yasir. Beliau telah terbuka hatinya . Cepatlah kau datang melamarku . Dan kita laksanakan pernikahan mengikuti sunnah Rasulullah Saw . secepatnya.

Wassalam

Afirah"

Seketika itu Zahid sujud syukur di mihrab masjid Kufah . Bunga - bunga cinta bermekaran dalam hatinya . Tiada hentinya bibirnya mengucapkan hamdalah.

Lahirnya Seorang Pejuang Islam Di Palestin

Ke hadapan sahabatku Taufiq,

Sudah dua malam aku berjaga, entah mengapa selaput mata ini tidak mahu melabuhkan lapisnya membiarkan aku enak dibuai mimpi lantas melupakan semua denyut permasalahan yang melanda pemikiranku yang kian hari kurasakan kian berat membebankan.

Kelmarin selepas solat Maghrib berjemaah, Luqman sibuk melakar-lakar pos tentera Israel yang berhampiran. Mereka tempoh hari menahan Abdul Kadeer, atas alasan menyimpan senjata berbahaya. Entah apa yang mereka ketemukan, langsung aku tidak ketahui.

Sungguh kami punya senjata, namun bukan di bawah jagaan Abdul Kadeer. Israel, membuta selalu. Abdul Kadeer hanya seorang lelaki yang tua dan tempang, justeru kami tidak lagi membebankan beliau dengan apa-apa jua tugas. Kasihan anaknya Hafiz, menjerit- jerit melihat bapanya ditarik kasar. Kami tekun mengamati pelan lukisan Luqman. Rajin mendengar arahannya. Aku tahu peluang untuk menang memang tipis, kami tidak punya senjata secanggih tentera Israel, bilangan kami juga lebih kecil.

Aku senyum. Sering timbul tentangan di antara kami dulu, Lutfi contohnya. Kenapa mahu teruskan perjuangan jika terang-terangan kita kecil dan lemah? Namun jawapan itu dia ketemukan sendiri saat abangnya dibunuh seorang tentera yang meronda. Haruskah aku ingatkan bahawa jika bukan kami yang membela nasib saudara-mara kami di sini, lantas siapa lagikah yang akan bangun memenangkan kami? Tidak timbul lagi soal kenapa membalas serangan, yang penting dalam qalbu masing-masing sudah dipasakkan niat, yang mudah- mudahan ikhlas kerana Tuhan. Bukan kemenangan yang diidamkan, tapi semangat itu yang harus sentiasa dijulang. Sekurang-kurangnya kami menegakkan apa yang sepatutnya berdiri di sini. Kami lemah dan kecil, mungkin. Tapi itu bukan kayu pengukur. Kisah Omar Mukhtar selalu kami jadikan pembakar semangat. Biar syahid di tali gantung namun Italy sudah tentu tidak akan melupakan insan gagah yang selama 20 tahun tidak berputus asa membebaskan Libya daripada penjajah.

Esok dengan izin Tuhan, akan kami ke sana. Dan sudah tentu aku perlu kepada tidur yang cukup. Namun entahlah, degil sungguh lena daripada menjemputku. Lantas kuambil pena dan tinta, mencoretkan sesuatu agar jika satu masa nanti aku telah tiada, sekurang-kurangnya ada secebis hati (kau!) yang masih mengingatiku. Segala- galanya milikku tidak kekal lama, hanya kuharapkan persahabatan kita mekar, lebih kekal daripada semuanya di bumi kelahiranku ini. Serasa terlalu penat aku mendiami perasaan yang sukar dirungkaikan dengan kata- kata.

Benarkah Taufiq? A goat would be slaughtered only if it chooses to? Benarkah?

Kata-kata itu aku pinjam dari seseorang yang tidak aku kenali, saat kau terjatuhkan bingkisan surat khabar yang kau bawa dari Malaysia. Salah satu komen pembacamu. Aku bertanyakan maksudnya daripadamu, dan patutlah engkau sendiri serba-salah mahu menterjemahnya.

Saban malam biar sudah bertahun lamanya aku masih terdengar-dengar tangisan Khalilah adikku yang ketika itu berusia enam tahun tatkala melihatkan ibuku ditembak oleh anjing bertopengkan wajah manusia tanpa sedikitpun rasa kasihan. Aku masih ingat aku sendiri menggigil-gigil ketakutan di bawah alas tidur melihatkan percikan darah abangku Jamil saat tempurung kepalanya bersepai dilawati peluru mesin syaitan itu. Hatiku luluh melihat bapaku dipijak-pijak oleh anjing-anjing kerahan iblis itu. 21 Ogos 1969 lelaki itu begitu gah sekali menyelamatkan Masjid Al-Aqsa saat bangunan itu dijilat api dibakar Zionis. Namun malam itu maruahnya diletakkan di bawah tapak but yang menggerunkan. Taufiq, aku kira kau takkan mengerti apa yang aku rasa saat itu. Bayangkan saat menjadi pelarian di Beirut jauh dari rumahmu yang sudah hancur ranap, tiba-tiba setiap orang bertempiaran, menjerit-jerit digempur oleh bunyi yang maha kuat lalu keluar segerombolan jembalang berpakaian tentera dengan mesin pembunuh yang memuntahkan butir-butir yang berdesing memburu manusia-manusia yang tidak mengerti mengapa harus nyawa mereka direntap.

Aku kira usia 17 padamu Taufiq, kau sibuk menguruskan pendidikanmu. Sekolah dan peperiksaan, keluarga dan teman-teman, percutian dan hobi masa lapang. Aku tidak salahkanmu Taufiq, jauh sekali daripada mencemburuimu. Aku sekadar berkongsi cerita. Kita sama-sama makhluk Tuhan, dan masing- masing diuji dengan cara-Nya yang tersendiri. 16 September 1982, dua minggu sebelum ulang tahun kelahiranku yang ke 17, dan dua hari berikutnya, seramai 3500 umat Islam Palestin disembelih, diperkosa, diseksa tentera Kristian Lebanon dari Tel Aviv, dihantar khas oleh Yahudi Laknatullah, kononnya usaha untuk menyahkan "militan" Palestinian Liberation Organization. Entah dari mana Israel mendapat idea gila bahawa mereka layak membenarkan tindakan itu lantas menarik beribu-ribu nyawa umat Muhammad. Seluruh ahli keluargaku terkorban dalam peristiwa itu. Aku kira Khalilah sendiri belum pandai mengeja untuk menjadi ahli PLO. Ah, aku menjadi putus harap.

Aku tak fikir rakyat dunia hari ini punya sensitiviti untuk mendengar ceritaku. Cukup kau sahaja yang menjadi temanku Taufiq. Mendengar kisahku. Umat dunia hari ini lebih bersedih dengan kejadian World Trade Centre, menutup langsung kisah Sabra dan Shatila. Aku hanya rakyat Palestin. Bukan kelahiran Amerika. Bukan warga negara maju. Lalu kisahku tidak diambil peduli. Begitu kejap kisah WTC menjengah, Amerika menuding jari menuduh warga Afghanistan menjadi dalangnya. Begitu pantas pula bumi itu disapa oleh ramahnya bala tentera Amerika.

Kegilaan apakah ini? Atau akukah yang sesat hidup di alam kebinatangan?

Pernah kaunyatakan padaku yang kaubenci melihat umatmu yang masih tidur. Jika aku di sini mahu menyelamatkan saudara-maraku secara fizikal, kau pula buntu bagaimana mahu menyelamatkan paradigma saudara-maramu daripada dijajah oleh cacing-cacing yang memamah kewarasan fikiran dan kekejatan iman. Kau mual dengan minda umat di bumi kelahiranmu. Sibuk dengan fesyen dan muzik (ah, aku sendiri tidak berselera untuk memikirkan perkara seremeh itu), mengikut-ikut rentak dunia terkini. Menjadikan Barat sebagai contoh tanpa sedar merekalah pembunuh benih-benih mujahid agama. Dari sekecil-kecil anak sehingga ke pakcik tua. Budaya Yahudi ditanam kukuh dalam kehidupan. Anak-anak diajar dengan tatasusila Inggeris kesemuanya, silibus agama dicarik- carik sehingga tinggal cebisan tulang, sekadar senipis selaput membran sel. Dilekakan dengan hedonisme. Terus mengikut sistem perdagangan yang ditinggalkan penjajah Inggeris, lantas membenarkan mereka menguasai ekonomi tanpa sebarang perubahan. Dan mereka menyeringai sinis menyaksikan kebebalan umat. Mendewa-dewakan sistem pemerintahan mereka. Mengamalkan sifat- sifat busuk mereka. Kau marah dan kau ingin bangun tapi kau tidak tahu caranya selain media yang kau pegang dan doa yang kautitipkan. Oh Taufiq, kau memang mulia (senyum).

Aku ingin menangis, tapi aku tidak mampu. Menangis tidak akan merubah apa- apa. Menangis tidak akan membuatkan semua umat Islam bersatu dan mengikat perjanjian memeterai keselamatan dan hak setiap nyawa Muslim di atas muka bumi. Menangis sekali-kali tidak akan menegakkan Khilafah Islamiyyah. Dan jika sekalipun aku menangis, tiada siapa yang sudi mendengarnya. Aku tidak tahu ke mana semua manusia yang diangkat menjadi pemimpin itu pergi. Mungkinkah gempa letupan di Palestin tidak terdengar ke negara-negara lain, lantas mereka meneruskan mimpi yang hanya seketika?

Dan buat kesekian kalinya aku sendiri tidak tahu apakah tindakanku untuk menyusup di bawah gelimpangan mayat malam berdarah itu, benar atau sebaliknya. Aku sepatutnya biarkan sahaja diriku mati hari itu, bukankah itu yang sewajarnya? Daripada melihat serangan berpanjangan Yahudi - Zionis terhadap Masjid Suci itu walaupun selepas Perjanjian Oslo pada 1993. Daripada menderita melihat kebejatan ihsan umat dunia. Kadang-kadang aku terfikir Taufiq, adakah cuma rakyat Palestin seperti kami sebenarnya yang mengetahui kepentingan Masjid Al-Aqsa? Ah, itu bukanlah soalan yang betul. Adakah cuma rakyat Palestin seperti kami yang beriya-iya mempertahankan Islam? Adakah negara-negara Arab yang lain, lebih tepat lagi, negara-negara Islam yang lain, gerun menghadapi Israel dan Amerika? Oh, mungkin Iraq juga mempertahankan Islam, lalu terus dengan kadar segera dibunuh bandar dan rakyatnya. Dan negara-negara lain terus menafikan kaitan mereka dengan Islam, agar terpelihara negeri dan makmur penduduknya. Oh... Kasihannya rakyat bumiku tak terbela...

Marah? Gilalah aku kiranya tidak punya perasaan marah. Aku tidak minta supaya kau datang ke mari lagi Taufiq, tidak langsung aku minta kau datang ke mari meninggalkan rumahmu dan keluargamu dan negaramu yang aman damai lantas menemaniku di sini yang selalu diselubungi perasaan takut. Menemaniku bererti kau harus selalu menghitung berapa temankah yang syahid hari ini. Berkira-kira berapa lama lagi yang ada sebelum dijemput Malaikat Maut. Menenangkan diri tika hati berdegup kencang terlihatkan manusia bersenjata. Membilang hari-hari berlalu dengan rasa kesyukuran dalam setiap nafas yang disedut. Sekurang- kurangnya dengan setiap deru nafas itu Israel tahu kami masih tidak mengalah. Yahudi tahu bahawa janji Tuhan akan tiba. Melihat Amerika tidur terus- terusan dalam istidraj. Biar. Aku yakin Taufiq, Tuhan Maha Adil.

Dunia melihat aduan terhadap Ariel Sharon difailkan di mahkamah antara bangsa untuk jenayah perang (Belgian Courts for war crime), tapi dengan selamatnya dia berjaya meloloskan diri. Heh, dan aku kira Slobodan Milosevic mungkin berasa jaki terhadap Sharon. Oh, subhanallah. Besar hikmahnya aku hidup selepas Sabra dan Shatila Taufiq. Biarpun aku terpaksa menyaksikan Sharon digelar oleh anjing saudaranya Bush sebagai "A Man of Peace", paling kurang dari Lebanon aku nekad kembali ke Palestin menjadi ahli Hamas pada 1987. Bangga aku dinobatkan sebagai Atfal Hijarah, sedang katamu kawan-kawanmu sudah cukup berpuas hati bergelar umat Islam tanpa sedikitpun berjuang. Fahamkah dunia betapa perit apa yang kami rasa? Memerangi Zionis dengan hatta batu. Harga yang harus dibayar kerana bergelar Muslim penduduk bumi suci. Namun aku cukup berbesar hati Taufiq, biar langsai nyawaku, agama ini agamaku, tanah ini tanahku. Usia 20-anmu kau sibuk merakam takziah buat agama, melihat umat yang lemah tak bersemangat dalam perjuangan berdakwah. Usia 20-anku pada 1989 aku mengucap syukur menyaksikan semangat sahabat-sahabatku yang dipenjarakan. Turut melaungkan takbir saat masa merakam peristiwa di Bir Nabala. Kau barangkali bungkam tatkala sahabat-sahabatmu tidak hadir ke usrah, tapi aku bungkam, lagi dan lagi saat Sheikh Ahmad Yassin dan Abdul Aziz Rantisi dibalun haiwan.

Adakah ibuku seekor kambing yang dipilih untuk disembelih Taufiq? Adakah abangku dan bapaku dan adikku dan aku dan jiran-jiranku dan saudara- maraku semuanya tidak lebih daripada kambing-kambing yang diminta untuk disembelih? Mana dunia saat kami ditindan bencana? Mungkinkah kalian akan terus lena sehingga sampainya satu saat di mana rumah kalian dihenyak dan maruah kalian dicalari? Tidak Taufiq, aku tidak mendoakan sesuatu yang buruk untuk kalian. Tidak pernah dan tidak akan. Cuma terlalu banyak harapan yang aku gantungkan. Kalian punya peluang yang tidak kami punyai. Kalian punya suara, kami cuma punya air mata yang tidak diendahkan. Kalian punya pendidikan, punya kuasa
(yang kalian tidak pernah gunakan), kami cuma punya permintaan, demi permintaan.

Penat? Sudah aku nyatakan awal-awal, aku penat mendiami perasaan ini. Saban hari tugas tidak menentu. Mempertaruhkan nyawa. Bukan aku penat dengan tanggungjawab ini Taufiq, cuma aku penat dengan kekesalan, penat melihat kejatuhan umat. Aku sedih melihat kanak-kanak membesar tanpa persekitaran yang mendamaikan. Hafiz mungkin masih terlalu kecil untuk memahami, tapi Aminah yang berusia tujuh tahun itu begitu kejal jiwanya pada pandanganku. Semalam aku lihat dia memberi cebisan rotinya untuk Ruqayyah adik kecilnya sedang dia sendiri menelan liur melihat makanan itu dikunyah rakus. Salman, anak bongsu Luqman yang berusia 12 tahun begitu berhati-hati tidak membenarkan Aminah dan kanak-kanak perempuan lain keluar bermain tanpa pengawasannya. Pernah aku dengar kata-kata Salman; "Kalian kaum perempuan, duduk di rumah. Jika ada apa-apa berlaku terhadap kalian, akulah yang kelak rasa paling bersalah," oh! Sungguhkah Salman masih anak-anak?

Sungguh aku tidak mengimpikan tertegaknya Khilafah Islamiyyah saat aku masih hidup, kerana aku sendiri tidak mampu berjanji untuk terus bernafas pagi esok. Aku tidak minta untuk kerajaan kafir terus tersungkur esok, tapi usaha akan terus aku panjangkan, sungguh, dengan izin Tuhan, hatta dengan batu. Aku akan teruskan perjuangan yang sedia ada ini, walaupun aku tidak nampak kelibat kejayaan menghampiri. Aku berjuang bukan untuk menang Taufiq, aku berjuang kerana Tuhan. Aku tidak melawan untuk hidup Taufiq, tapi aku berperang untuk mati. Jika kalah, aku yakin ada perhitungan yang lebih baik untukku kemudian. Memang aku kasihkan keluargaku, teman-temanku dan segala- galanya di bumi Palestin ini, tapi aku yakin Tuhan tidak akan membiarkan kami terus-terusan bersedih.

Taufiq, harus aku carikkan noktah di sini. Aku perlu lekas berangkat, punya hal yang harus diselongkar. Terima kasih sahabat, atas lawatanmu tempoh hari. Surat ini akan kuserahkan kepada ahli bantuan dari negaramu, sampai dengan selamat hendaknya kepadamu. Mudah-mudahan Tuhan akan mengurniakan kita keimanan dan kekuatan yang bertambah mantap sehingga saat kita bertemu-Nya. Mudah-mudahan azan akan terus berkumandang di seluruh ceruk dunia. Mudah-mudahan kita terus bersyukur dengan nikmat Iman. Dan sentiasa kita dalam rahmat-Nya.

Sekiranya aku mati, Taufiq, engkaulah yang kuharapkan menggalas amanah menongkah kesedaran.

Salam juang, Umar

Oleh itu berperanglah (wahai Muhammad) pada jalan Allah (untuk membela Islam daripada pencerobohan musuh); engkau tidak diberati selain daripada kewajipanmu sendiri. Dan berilah perangsang kepada orang-orang yang beriman (supaya turut berjuang dengan gagah berani). Mudah-mudahan Allah menahan bahaya serangan orang-orang yang kafir itu. Dan ingatlah Allah amatlah besar kekuatan-Nya dan amatlah berat azab seksa-Nya An-Nisa': 84